Destinasi Wisata Pangalengan

Jelajahi keindahan alam dan budaya di seluruh kawasan Pangalengan, mulai dari Desa Banjarsari hingga destinasi rekomendasi sekitarnya.

Destinasi Wisata Banjarsari

Wisata unggulan di dalam wilayah Desa Banjarsari, Pangalengan

5 Destinasi
NIMO HIGHLAND PANGALENGAN
Wisata Alam
Banjarsari

NIMO HIGHLAND PANGALENGAN

Jl. Gn. Cupu, Banjarsari, Kec. Pangalengan, Kabupa...

Nimo Highland adalah destinasi wisata alam dan rekreasi modern di Pangalengan, Kabupaten Bandung, yang menyajikan panorama kebun teh hijau dari ketinggian sekitar 1.400–1.600 meter di atas permukaan laut (mdpl). Informasi Umum & LokasiAlamat: Jl. Gunung Cupu, Desa Banjarsari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.Asal Nama: "Nimo" adalah singkatan dari Nini Mountain atau Gunung Nini, lokasi tempat wisata ini berdiri. Jam Operasional:Senin–Jumat: 09.00–17.00 WIBSabtu, Minggu & Hari Libur: 05.00–18.00 WIB (buka lebih awal khusus sesi sunrise).Daya Tarik UtamaGlass Sky Bridge (Jembatan Kaca): Jembatan berbentuk huruf U yang ikonik di atas kebun teh, memungkinkan pengunjung menikmati pemandangan 360 derajat.Nimo Eye (Bianglala): Bianglala di atas ketinggian yang memberikan sudut pandang luas ke arah lembah dan perbukitan.Wahana Petualangan: Tersedia Sky Bike, Flying Fox, ATV, hingga berkuda.Nuansa Arsitektur: Mengusung konsep bangunan modern beraksen putih dan biru ala Santorini yang fotogenik.Kafe & Kuliner: Terdapat coffee shop dan area food court yang juga merangkul pelaku UMKM lokal.Asal-Usul Nama "Nimo"Nama Nimo merupakan singkatan dari Nini Mountain (Gunung Nini), yaitu nama asli dari kawasan perbukitan tersebut. Sebelum dikembangkan menjadi destinasi modern, Gunung Nini dikenal sebagai area perkebunan teh lama yang dikelola oleh PTPN dengan ikon berupa sebuah bangunan saung di puncak bukit.Gunung Nini di Pangalengan, Kabupaten Bandung, adalah sebuah bukit setinggi kurang lebih 1.400–1.616 meter di atas permukaan laut (mdpl) yang terletak di tengah Perkebunan Teh Malabar.Asal-Usul Nama "Gunung Nini"Asal kata "Nini": Dalam bahasa Sunda, nini berarti nenek.Cerita rakyat: Konon, saat tokoh Belanda Karel Albert Rudolf Bosscha berkeliling mengontrol perkebunan teh miliknya, ia sering melihat seorang wanita tua (nini-nini) yang sedang duduk beristirahat bersama cucunya di atas bukit ini. Dari situlah masyarakat sekitar mulai menyebutnya sebagai Gunung Nini.Sejarah dan Hubungan dengan K.A.R. BosschaPembangunan Perkebunan Malabar: Perkebunan teh ini mulai dirintis sekitar tahun 1890 dan dikelola secara besar-besaran oleh K.A.R. Bosscha sejak Agustus 1896.Saung Pengawasan: Bosscha membangun sebuah saung pandang di puncak Gunung Nini. Dari tempat ini, ia memantau hamparan luas kebun teh Malabar serta melihat pemandangan ke arah Situ Cileunca.Lokasi Bersejarah: Gunung ini terletak tidak jauh dari Wisma / Mess Malabar, rumah bergaya neo-gotik peninggalan Bosscha (dibangun 1898), serta makam tempat Bosscha dimakamkan.Transformasi Menjadi Destinasi Wisata ModernPengelolaan Awal: Kawasan ini dahulu dikelola langsung oleh PTPN VIII sebagai bagian dari paket wisata alam dan tea walk.Pengembangan Nimo Highland: Seiring waktu, potensi kawasan ini dikembangkan bersama investor menjadi destinasi wisata modern bernama Nimo Highland (singkatan dari Nini Mountain) yang menyuguhkan jembatan kaca (skywalk), wahana, dan spot panorama 360 derajat.
1,813 Dilihat
Rp 15.000
TEH JANGKUNG MALABAR
Wisata Alam
Banjarsari

TEH JANGKUNG MALABAR

Banjarsari, Kec. Pangalengan, Kabupaten Bandung, J...

Teh Jangkung Malabar adalah destinasi wisata alam berupa perkebunan teh yang terletak di Banjarsari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.Lokasi & AksesAlamat: Banjarsari, Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.Jam Operasional: Buka setiap hari (umumnya pukul 06.00 – 17.00 WIB, dengan waktu terbaik untuk menikmati matahari terbit atau terbenam pukul 05.00–07.00 dan 16.00–17.00).Harga Tiket Masuk (HTM): Sekitar Rp5.000 hingga Rp15.000 per orang (bergantung kebijakan akses dan wahana seperti Tea Bridge).Daya Tarik & KeunikanPohon Teh Tinggi: Berbeda dari kebun teh biasa, pohon teh di sini dibiarkan tumbuh tinggi mencapai 1 hingga 10 meter karena tidak rutin dipangkas, menciptakan lanskap yang unik dan eksotis. [1, 2]Jembatan Kayu (Tea Bridge): Terdapat jembatan kayu estetik di tengah hamparan kebun teh yang menjadi spot favorit pengunjung untuk berfoto.Aktivitas Wisata: Cocok untuk piknik keluarga, jalan-jalan santai, fotografi, pre-wedding, hingga menikmati udara pegunungan yang sejuk.Sejarah Teh Jangkung Malabar bermula dari pembukaan Perkebunan Teh Malabar di Pangalengan, Kabupaten Bandung, pada tahun 1896 oleh seorang pengusaha asal Belanda bernama Karel Albert Rudolf (K.A.R.) Bosscha.1. Perintisan oleh K.A.R. Bosscha (1896)Membuka Hutan: Bosscha datang ke Pangalengan dan merintis perkebunan dengan cara membabat hutan belantara Malabar.Tantangan Alam: Pada awalnya, usaha ini sempat diragukan karena wilayah Pangalengan dianggap terlalu dingin untuk tanaman teh. Namun, Bosscha menilai iklim tersebut mirip dengan kawasan pegunungan Himalaya.Varietas Unggulan: Ia kemudian membudidayakan jenis teh hitam (Assam Tea) yang tumbuh subur dan kemudian menjadi salah satu produk teh terbaik di dunia pada masa kolonial.2. Asal-Usul Nama "Teh Jangkung"Pohon Tinggi Usia Ratusan Tahun: Istilah "jangkung" dalam bahasa Sunda berarti tinggi. Dinamakan demikian karena pohon-pohon teh di kawasan ini tidak dipangkas pendek seperti kebun teh modern, melainkan tumbuh tinggi menjulang hingga mencapai sekitar 10 meter karena telah berusia lebih dari 100 tahun.Lokasi Pembibitan Awal: Kawasan ini dulunya merupakan bagian dari pusat pembibitan dan pengembangan tanaman teh bersejarah yang dirintis oleh Bosscha.3. Kepedulian Sosial dan Masa KejayaanFasilitas Pekerja: Bosscha tidak hanya membangun bisnis, tetapi juga mendirikan perumahan bagi ratusan pekerja, membangun sekolah gratis Vervoloog Malabar (1901) bagi anak-anak pribumi, serta memajukan teknik pengolahan teh.Kejayaan Ekspor: Perkebunan Malabar sempat tercatat sebagai salah satu eksportir teh terbesar di dunia.4. Era Pasca-Kemerdekaan hingga Saat IniPengambilalihan Pemerintah: Setelah melalui masa perang dan pergantian kepemimpinan, pada Desember 1957 perkebunan ini secara resmi diambil alih oleh pemerintah Indonesia dan kini dikelola oleh PTPN.Alih Fungsi Menjadi Wisata: Produksi teh di kawasan spesifik Teh Jangkung tidak lagi menggunakan cara tanam dari biji melainkan beralih ke sistem stek. Saat ini, kawasan Teh Jangkung Malabar yang terletak di Banjarsari, Pangalengan, telah dikembangkan menjadi destinasi wisata alam dan edukasi sejarah yang populer.
19 Dilihat
Rp 3.000
RUMAH BOSSCHA MALABAR
Wisata Edukasi
Banjarsari

RUMAH BOSSCHA MALABAR

Banjarsari, Kec. Pangalengan, Kabupaten Bandung, J...

Rumah Bosscha Pangalengan (atau dikenal juga sebagai Wisma Malabar) adalah destinasi wisata sejarah yang terletak di tengah hamparan hijau Perkebunan Teh Malabar, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Informasi Umum & LokasiAlamat: Desa Banjarsari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa BaratJam Operasional: Setiap hari pukul 08.00 – 17.00 WIBHarga Tiket Masuk: Sekitar Rp5.000 per orang (belum termasuk biaya parkir kendaraan)Rumah Bosscha di Pangalengan adalah bangunan bersejarah yang didirikan pada tahun 1896 oleh Karel Albert Rudolf Bosscha, seorang pengusaha asal Belanda yang dijuluki sebagai Raja Teh Priangan.Berikut adalah ringkasan sejarah dan perkembangannya:Sejarah SingkatPendirian (1896): Rumah ini dibangun bersamaan dengan pembukaan Perkebunan Teh Malabar oleh perusahaan NV Assam Thee Onderneming Malabar. Rumah ini berfungsi sebagai kediaman pribadi sekaligus pusat pengelolaan perkebunan.Masa Kepemimpinan Bosscha: Bosscha tinggal dan memimpin perkebunan teh tersebut selama lebih dari 30 tahun hingga ia wafat pada 26 November 1928 akibat infeksi tetanus setelah jatuh dari kuda di Gunung Nini.Renovasi: Bangunan ini pernah mengalami beberapa kali renovasi, di antaranya pada tahun 1942 pada masa pendudukan Jepang, serta setelah terdampak oleh peristiwa Gempa Pangalengan.Pengalihan Kepemilikan: Setelah melalui berbagai era, aset perkebunan dan rumah ini kemudian diserahkan dan dikelola oleh negara, dan kini berada di bawah pengawasan PT Nusantara 1 Regional 2 Malabar melalui unit agrowisata.Karakteristik dan Fungsi Saat IniArsitektur: Mengusung gaya arsitektur khas Eropa abad ke-19 dengan material dominan berupa kayu dan batu alam. Di dalamnya masih tersimpan berbagai perabot antik peninggalan aslinya, seperti piano kuno dan peta lawas perkebunan.Destinasi Wisata: Saat ini, rumah yang berlokasi di tengah Perkebunan Teh Malabar (ketinggian sekitar 1.550 mdpl) ini dibuka untuk umum sebagai wisata sejarah.Akomodasi: Selain area museum rumah utama, di sekitar kawasan juga tersedia fasilitas penginapan bagi wisatawan.
8 Dilihat
Rp 5.000
MAKAM KAREL ALBERT RUDOLF (K.A.R.) BOSSCHA
Wisata Edukasi
Banjarsari

MAKAM KAREL ALBERT RUDOLF (K.A.R.) BOSSCHA

QHQQ+54H, Banjarsari, Pangalengan, Banjarsari, Ban...

Makam Karel Albert Rudolf (K.A.R.) Bosscha berada di tengah hamparan hijau Perkebunan Teh Malabar, Desa Banjarsari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung.Lokasi dan AksesLetak: Tersembunyi di tengah kebun teh, dekat dengan rumah kediaman Bosscha dan kawasan wisata Nimo Highland.Perjalanan: Pengunjung harus berjalan kaki sekitar 150 meter melewati jalan setapak berbatu di antara kebun teh yang asri.Tiket Masuk: Biaya kontribusi/kebersihan sebesar Rp5.000 per orang kepada penjaga makam.Arsitektur dan Bentuk MakamDesain Unik: Dirancang langsung oleh K.A.R. Bosscha sebelum ia wafat.Bentuk Kubah: Memiliki kubah putih berbahan marmer yang menyerupai topi khas (atau topi yang sering ia kenakan).Penyangga: Kubah tersebut disangga kokoh oleh delapan tiang putih.Dimensi: Memiliki kedalaman lubang makam sekitar 2,5 meter dan lebar 3 meter.Suasana dan LingkunganTeduh dan Asri: Dikelilingi oleh pepohonan rindang serta hijaunya kebun teh, menciptakan suasana yang tenang, sejuk, dan damai.Sejarah Singkat: K.A.R. Bosscha (lahir di Den Haag, 15 Mei 1865 – wafat di Malabar, 26 November 1928) adalah "Raja Teh Priangan" yang mengelola Perkebunan Teh Malabar sejak 1896 serta perintis Observatorium Bosscha di Lembang. Ia mewasiatkan agar dimakamkan di tengah kebun teh tempat ia mengabdi.
6 Dilihat
Rp 5.000
PEMANDIAN AIR PANAS TIRTA CAMELIA
Wisata Alam
Banjarsari

PEMANDIAN AIR PANAS TIRTA CAMELIA

Banjarsari, Kec. Pangalengan, Kabupaten Bandung, J...

Tirta Camelia adalah destinasi wisata pemandian air panas alami dan resort yang terletak di kawasan pegunungan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Destinasi ini memadukan konsep relaksasi air hangat belerang dengan pemandangan alam perkebunan teh yang sejuk dan estetik.Lokasi & Jam OperasionalAlamat: Desa Banjarsari (atau area perbatasan Wanasuka), Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.Jam Buka: Setiap hari, 24 jam.Harga Tiket Masuk (HTM)Dewasa:Weekday (Senin–Jumat): Rp40.000 – Rp43.000Weekend / Hari Libur: Rp45.000 – Rp48.000Anak-anak:Weekday: Rp30.000 – Rp33.000Weekend / Hari Libur: Rp35.000 – Rp38.000Warga Lokal (Desa Banjarsari/Wanasari): Rp25.000Tiket Premium Private Hot Spring: Sekitar Rp350.000 per 3 orang (durasi 2 jam, sudah termasuk akses private pool dan fasilitas penunjang).Daya Tarik & Jenis KolamAir hangat di Tirta Camelia bersumber langsung dari mata air panas alami / kawah Gunung Windu yang mengandung belerang dengan suhu sekitar 40–45 derajat Celsius (ditampung agar pas di tubuh). Terdapat beberapa pilihan kolam:Kolam Dewasa & Anak: Area kolam renang dan berendam umum dengan kedalaman yang ramah anak.Infinity Pool / Kolam Pemandangan: Menghadap langsung ke panorama perbukitan dan kebun teh.Kolam Arus (Sungai Buatan) & Perosotan: Area bermain air yang dilengkapi seluncuran.Kolam Rendam Private: Ruang privat/eksklusif untuk ketenangan lebih tinggi.Fasilitas LengkapGazebo / Saung: Disewakan mulai dari Rp35.000 – Rp45.000 per 2 jam.Mushola: Area ibadah yang luas dan bersih.Kamar Bilas & Toilet: Tersedia banyak bilik terpisah (catatan: air bilas cenderung dingin).Area Food Court / Kantin: Menyediakan aneka makanan dan minuman hangat.Fasilitas Tambahan: Aula/panggung untuk rombongan atau live music, area parkir luas (muat bus), penyewaan tikar, serta area berkemah (camping).
4 Dilihat
Rp 45.000